Abdullah Said dan Kepemimpinan Kaderisasi
Salah satu penyakit paling berbahaya dalam kepemimpinan adalah ketika seorang pemimpin sibuk menjaga posisi, tetapi abai menyiapkan generasi. Ia tampak aktif, terlihat berpengaruh, namun sejatinya sedang menanam bom waktu bagi jama’ah yang dipimpinnya. Inilah yang dalam banyak literatur disebut sebagai kepemimpinan oportunistik memetik manfaat dari organisasi tanpa membangun kesinambungan perjuangan.
Berbeda dengan itu, sejarah kepemimpinan Ust. Abdullah Said, pendiri Ormas Hidayatullah, justru berdiri di kutub yang berlawanan. Beliau memimpin bukan untuk menguatkan figur, melainkan untuk melahirkan barisan.
Kepemimpinan yang Takut Tanpa Kader
Pemimpin yang tidak menyiapkan kader sejatinya sedang menyiapkan dirinya sendiri, bukan masa depan jama’ah. Ia takut melahirkan orang-orang hebat, enggan berbagi peran, dan lebih nyaman menciptakan ketergantungan. Kepemimpinan semacam ini biasanya menjaga status quo, bukan misi.
Al-Qur’an telah mengingatkan dengan sangat tegas:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah…” (QS. An-Nisa: 9)
Ayat ini tidak semata berbicara tentang anak kandung, tetapi juga generasi penerus amanah dan perjuangan. Pemimpin tanpa kader berarti secara sadar meninggalkan generasi yang lemah—lemah visi, lemah nilai, dan lemah arah.
Abdullah Said dan Kepemimpinan Berbasis Kader
Ust. Abdullah Said sejak awal tidak membangun Hidayatullah sebagai panggung figur, melainkan sebagai wadah pengkaderan peradaban. Pesantren, sistem tarbiyah, halaqah, hingga pola hidup berjama’ah yang beliau rintis, semuanya diarahkan untuk satu tujuan besar: melahirkan manusia-manusia pengemban amanah.
Beliau memahami betul firman Allah:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur.”
(QS. Ash-Shaff: 4)
Barisan yang teratur tidak lahir dari karisma tunggal, tetapi dari kaderisasi yang sistemik, berjenjang, dan berkesinambungan. Inilah mengapa Hidayatullah tidak runtuh meski figur pendirinya telah wafat. Karena yang dibangun bukan ketergantungan, melainkan ketaatan pada manhaj dan sistem.
Amanah Kepemimpinan dan Bahaya Menunda Regenerasi
Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan keras:
“Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.”
(HR. Bukhari)
Pemimpin yang tidak menyiapkan kader ahli untuk melanjutkan amanah sejatinya sedang menyerahkan masa depan kepada kehancuran yang tertunda. Bahkan Nabi ﷺ menyebut pengkhianatan amanah secara halus sebagai bentuk penipuan:
“Barangsiapa menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim)
Menikmati jabatan tanpa memikirkan penerus adalah pengkhianatan yang sering tidak disadari—tampak rapi, tapi mematikan.
Jama’ah, Kepemimpinan, dan Kaderisasi
Umar bin Khattab r.a. menegaskan:
“Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada jama’ah tanpa kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan tanpa ketaatan.”
Namun ketaatan tidak lahir dari figur yang berdiri sendiri. Ketaatan lahir dari kader yang memahami nilai, visi, dan misi perjuangan. Inilah yang sejak awal ditanamkan Abdullah Said: loyalitas pada nilai, bukan pada individu.
Imam Al-Ghazali bahkan mengingatkan:
“Pemimpin yang hanya memikirkan masanya, sedang ia merusak masa depan umat.”
Perspektif Kepemimpinan Modern: Abdullah Said Relevan Sepanjang Zaman
Apa yang dilakukan Abdullah Said sejatinya sangat sejalan dengan teori kepemimpinan modern:
- Transformational Leadership
Pemimpin sejati melahirkan pemimpin baru, bukan pengikut pasif. - Succession Leadership Theory
Kesehatan organisasi diukur dari kualitas kader pengganti, bukan lamanya satu figur berkuasa. - Peter Drucker mengatakan:
“The best leaders create a culture where leadership is multiplied, not centralized.”
Budaya inilah yang hidup dalam Hidayatullah: kepemimpinan yang terdistribusi, terdidik, dan teruji.
Penutup: Pelajaran Besar dari Abdullah Said
Pemimpin tanpa kader bukan sedang membangun perjuangan, melainkan mengamankan kepentingan. Ia terlihat sibuk, tapi meninggalkan kehampaan. Ia tampak kuat, tapi rapuh secara peradaban.
Sebaliknya, Abdullah Said mungkin telah tiada secara jasad, namun kepemimpinannya terus hidup—dalam kader, dalam sistem, dan dalam barisan yang terus bergerak.
Inilah pelajaran penting bagi kita semua:
kepemimpinan sejati bukan tentang siapa yang memimpin hari ini, tetapi siapa yang siap melanjutkan esok hari.
Makhfudz/HD Media
BMH Raih Tiga Penghargaan Indonesia Fundraising Award 2025,
21 jam yang lalu
Keutamaan Bulan Sya’ban dan Amalan yang Dianjurkan
3 hari yang lalu